Archive for the ‘ Scribbles ’ Category

The Irony of Waiting

Well, here i am sitting in my motorbike. Alone, despite the traffic and sounds of the night. Waiting, for someone, something, don’t really know when, just had one thing in my mind, which is to keep waiting, and waiting ’til it’s over. With the company of mosquitos, darkness, cigarette smoke, damp and wet concrete, worn off shoe and hungry stomach, and if i may add, thirsty and itchy throat. What the hell i’m doing in here? Waiting? For what? One word shall come out from my mouth, that is ‘hope’. Yeah, hope is the thing i cling to right now. Hope that i can make a difference, to change something, to make a better way.
Waiting is always easier said than done, i believe. The most part of it, you just need to sit tight and wait. But, the word ‘just’ really bugging me off. You see, every simple thing isn’t always turns out to be simple. There’s some more than that, the catch or the risk or anything. To wait for something means you count the time, the seconds, the minutes, the hours, the days and so on. It got hold off of your head, your mind, and it seem forever, and you can’t get it off outta your mind. It kinda stuck inside your mind and the harder you try it get worse. When the time worn out, you will be restless, keep watching the time every little while.
Now here i am, waiting. Like a statue with scars, try to get this thing straight, being normal. But no, i can’t be normal no matter how hard i tried, i just grew more and more restless. Until when? When the waiting is gonna be over? Have no idea, assumptions doesn’t do any good either.
Watching the cars, the motorcycles, the people, and i keep getting nervous, restless, weary of the situation. I need answer, i need confirmation. It’s just i don’t know when, when my waiting is over. Oh man, it sucks. It’s already 19.09 from 18.08, an hour already, and here i am, still waiting…

Pulpen Itu Penting

Sepenting apa sih pulpen itu? Ya kalo ga ada pulpen kita ga bisa nulis, itu jelaaas. Nah biasanya kita mudah menemukan pulpen, ketika di kantor, di rumah atau di tempat lain. Mau beli saja gampang, hanya untuk menulis biasa harga sebuah pulpen juga tidak mahal. Malah ada yang pulpen miliknya berserakan di mana-mana.
Buat saya, sejujurnya pulpen itu setengah penting dan tidak. Karena setelah menginjak kelulusan dari kuliah saya jarang sekali menggunakan pulpen, bisa dibilang lebih penting mouse dan keyboard secara setiap hari saya berkutat dengan mereka. Tapi memang di saat-saat tertentu, saya memang butuh pulpen. Sebenarnya fungsi pulpen sekarang sudah bisa digantikan dengan adanya handphone atau smartphone yang menyediakan fitur note di dalamnya. Jika tidak ada pulpen dan kertas, tinggal simpan note saja di handphone anda, mudah dan tidak buang buang kertas bukan?
Tapi, walaupun semua hal tersebut di atas, saya jujur menemukan keberadaan pulpen itu sangat penting, ya seringnya memang ketika dibutuhkan sulit sekali ditemukan. Di kantor saya, pulpen bisa dibilang menjadi barang langka, ya langka, bukan karena tidak disediakan oleh pihak kantor, tp karena memang pulpen itu barang yang rawan hilang. Ya, rawan sekali untuk hilang entah kemana. Pulpen saya di kantor telah hilang entah berapa banyak, tidak yang dari kantor dan tidak juga yang saya bawa sendiri dari rumah. Mulai disediakan banyak, hingga menipis hanya satu, dan benar-benar tidak ada. Nah ini dia yang aneh, ga tau deh itu pulpen raib kemana, siapa yang ambil juga tidak ketahuan. Sudah berkali-kali minta baru, bawa dari rumah, sudah berkali-kali juga hilang dan menjadi korban. Entah rugi berapa deh pulpen koleksi pribadi yang cukup mahal, mulai dari milipen hingga graphic pen, stabilo dan sebagainya. Cukup frustasi, ketika saya meninggalkan pulpen sesaat di meja sendiri untuk ke ruangan lain dan ketika kembali pulpennya telah kabur tanpa jejak. Aneh memang, kaya ada tuyul saja.
Biasanya tersangka utamanya teman seruangan saya, tapi itu pasti kembali walau tercecer, tp yang saya maksud di sini adalah yang ga pernah kembali. Memang si, karena kebiasaan saya sering menuduh dia (walau dalam konteks bercanda tentunya).
Ya disaat dibutuhkan, pulpen tidak ada, itu bener-bener bikin stress. Sudah diberikan label nama pun tidak kembali, apa musti dirantai seperti kunci dan dompet saya?
Jadi buat saya, ya pulpen itu penting kadang-kadang, tp karena sering hilang disaat dibutuhkan, pulpen menjadi lebih penting. Seharusnya memang pulpen diberi kabel seperti mouse dan keyboard, jadi tidak mudah hilang. Hal yang aneh kan kalau ada yang teriak “waks mouse saya hilang!” pasti kita menuduh kucing sekitar. Kalau keyboard kita yg hilang, jelas kita menuduh johan, it support di kantor.

Telur Mata Sapi

Di tengah-tengah acara makan siang salah satu rekan kerja saya berceloteh, mengenai sesuatu yang sedikit tak berguna tapi menarik, yang sedikit memancing imajinasi dan menuntut kita berpikir. Tentang pepohonan dan binatang. Ia bertanya, pohon apakah yang paling berguna, dan jawabannya menurut dia adalah pohon kelapa. Karena hampir semua bagian dari pohon kelapa tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kita. Mulai dari buahnya, air kelapa, batoknya, batang pohon, akar, sertau daunnya. Sedangkan yang kedua adalah pohon pisang. Kemudian ia kembali bertanya, kali ini apakah binatang yang paling berguna, tentu saja jawabnya adalah ayam. Bagian tubuh manakah dari ayam yg tidak bisa kita konsumsi? Tidak ada, mulai dari kepala hingga ceker bisa kita manfaatkan dalam masakan. Bulunya bisa untuk kemoceng, kok bulutangkis, dan lainnya. Telurnya menjadi makanan, dan terlebih lagi, disaat hidup ayam menjadi jam weker sebagian dari kita, penanda hari menjelang pagi. Rasa daging ayam pun sangat enak dan sangat umum dan mudah dicerna semua orang. Jarang sekali ada yang tidak doyan daging ayam. Nah bagaimana dengan yang kedua? Tentu saja sapi. Mulai dari membajak sawah, di perah susunya, menjadi keju hingga daging wagyu yang terkenal. Kulitnya pun dijadikan selimut atau pakaian. Kotorannya pun bisa jadi pupuk. Nah kedua binatang tersebut emang paling berkuasa soal berguna atau tidak. Tapi walaupun ayam itu yang nomor satu, ternyata ayam sangat membenci sapi. Ya, ayam benci sekali dengan sapi, sekilas hal yang aneh, memangnya layak seperti kucing dan anjing? Ayam benci sapi karena telurnya yang dimasak dinamakan telur mata sapi, dan dia tidak mendapat ganti rugi atau sedikit royaltipun dari situ. Padahal sapi tidak memiliki hubungan apapun dengan makanan tersebut, tetapi namanya dipakai untuk makanan tersebut, ayam pun keheranan bukan kepalang. Oleh karena itu ayam selalu menegaskan bahwa makanan tersebut harus dinamakan telor ceplok. Pasti kita semua terheran-heran dan akhirnya sedikit mengerti asal muasal nama telor ceplok itu diambil. Ternyata teman saya itu cerita panjang lebar dari mulai tanaman hanya untuk menyampaikan inti cerita asal muasal telor ceplok.

A Relative Doctor

Well, we all know that doctors are indeed a respectable title, and also profitable, right?
To be a doctor one must undergo a serious, or i might say good deal amount of college fee. So it’s not for everybody, well if all people wants to be doctors, who’s gonna be the patient, right? So, we all know doctors, we’ve been to a doctor at least once in our life, and it’s for a good and healthy purpose i bet. As you know, we go to the doctor to check our health to cure our diseases or illnesses. And to be frankly put, we care about our health, i mean whose wanna be rich and powerful or famous or important but sick? Nobody right? All of that aren’t good to run into if you are sick. So, first on the list, being healthy is important.
And now, we all trying our best in life, but sometimes in order to pursue that, we forget something else, our health or our hygiene or even our mind. We tend to forget things. When we do that, bad things happens. We get sick, depressed, stressed, infected or else. And because of that, we went to seek help, a doctor, medical attention, or psychiatric. So the second of the list is medical profession (you can say doctor or psychiatric or anything).
Now, imagine what would you do or what do you expect when you going to see a doctor? To be cured, to be explained, to be confirmed about that you’re gonna be okay. Now that’s a personal matter, we like to be keep in private about this thing, about our medical records or profiles. When patient go to see a doctor, he expect the doctor to give him the answer he want, that he’s gonna be okay, or there’s nothing to worry about and all that stuff. He believe in the doctor, he would do what the doctor’s bid him to. So, that’s make this relation is so crucial and hold a great deal of trust and conformity between them. Seriously, if someone had been used to in one doctor, he’ll gonna say to the rest of his life that the doctor is the best (well for him). And what i’m trying to say is, the third of the list, which is it would be great to have a family member that’s a doctor. Because you put all of your trust, your health risk or life in the doctor, and of that doctor is one of your relatives, that means he will have a good intention from the beginning. Who wouldn’t want to help his relative to get better or healthy, right?
All of these could be useful for doctors, that they should treat their patients as their family, not just because their money. We as patients hopes that we can trust doctors with our health and they take care of it with passion, with pure intention as to cure their brothers or sisters. Cause when doctors start being like a relative, who listen to our complaints, irrelevant mumblings or stupid confessions or else, and patiently subdued our overgrowing stress or pain of the illness, thay had already hold their trump card.

Your Pin Please

We all have blackberry right? Blackberry has become common gadget among people, well but not me. I don’t have balckberry which also shortly known as bb.
What’s good about bb anyway? Yeah, the blackberry messenger or bbm. The important key feature that had became a phenomenon, connectivity. With the existence of bbm, people can easily connect each other (as long they are bb users). It’s just like a messenger (yahoo and else) but it’s more powerful since it has it’s own server that made it freely not rely on the carrier provider. The culture of bb had struck through all the consumer class (from teenager, school children and businessmen, even housewives).
There’s a funny thing about this culture. Somehow it had transcend the connectivity media people used to do with a phone. As you may see, bb is also a phone, but the primary use is not as a phone. People tend to collect or exchange their bb pins rather than ask phone numbers.

My friend was once asked me to rely a message to someone from text, cause her bb’s battery was low, and her bbm was off. The main reason was she didn’t know the person’s number, only her pin. So she contacted me to give the person her message.
Funny thing was indeed she knew the person, knew her pin, but didn’t know her phone number. That’s ridiculous, like they all didn’t need the numbers anymore, just their pins.

Quite a transgression right?

Being Our Own Judge

Tadi pagi sewaktu g keluar untuk sarapan di deket rumah, g secara ga langsung mendengar pembicaraan penjualnya dengan salah satu pembelinya. Walaupun g ga mau tau apa yg dibahas tp namanya juga manusia, g memproses apa yg g denger, yang tampaknya mereka lagi ngomongin orang lain di belakang. Pastinya yang jelek-jelek dan dengan rasa ga suka atau benci. Kenapa juga ya orang suka jelek-jelekin orang lain, padahal kalo ditelusuri belum tentu benar, toh kenyataanya mereka hanya tau faktanya dari sisi mereka saja, mereka ga tau fakta dari sudut pandang yg lain, tapi dengan begitu mereka sudah bisa menghakimi orang lain dan menyebarkan berita sesat atau jelek ke orang-orang. Padahal apakah mereka ga seperti itu? Apakah mereka orang baik-baik yg ga pernah melakukan kesalahan? Besar kemungkinannya kan disaat mereka sedang ngomongin orang lain, mereka juga diomongin orang. Menurut g itu pemikiran org yg bener-bener sempit dan tertutup. Ga pernah mau mencari tahu kenyataan yg sebenarnya dan hanya menerima mentah-mentah informasi yg mereka dapat yg tidak bisa dipastikan kebenarannya. Dan bagaimana jika apa yg mereka katakan atau sebarkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan? Fitnah kan namanya? Siapa yg menjadi korban? Siapa pula pelakunya? Mereka telah melakukan kejahatan, pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik. Ini adalah etika dan etos hidup sosial yg perlu diperbaiki. Sebenernya apa sih keuntungan buat mereka dengan melakukan itu? Apakah kepuasan pribadi semata atau sebagai pembalasan atau pelampiasan karena mereka pribadi tidak suka atau benci sama orang tersebut?
Ok, g di sini ngomong panjang lebar juga bukan untuk menghakimi mereka, tapi lebih sebagai refleksi, refleksi akan diri kita sendiri.
Sejujurnya saat g nulis tentang ini atau kalian membaca ini, apakah kalian bertanya ke diri kalian sendiri kalau hal ini biasa atau pernah kita lakukan thd org lain? Kalau g iya, g merasa pernah dan cukup sering, refleksi inilah yg mengetuk g untuk sadar dan bangun dari kemunafikan g dan berusaha lebih baik lagi untuk tidak membenci diri g sendiri. Benci, kenapa benci? Ya karena g menghakimi orang lain apa yg mereka lakukan (walau tetap salah) tp g sendiri juga lakukan. Artinya g pun menghakimi diri g sendiri bukan?
Nah ayo marilah kita bertanya ke diri kita sendiri, maukah kita menghakimi diri kita sendiri? Dan sebelum kita menghakimi orang lain, hakimilah diri sendiri terlebih dahulu.

Mobile Blogging from here.

Get Shorty

Sebenernya g orang yg cukup open minded, radikal dan bebas. g ga peduli apa yang orang lain pikirin tentang diri g dan apa yang g lakukan. Mereka bisa dibilang ga penting. Tapi separah apapun g, ada hal yang cukup menarik yang g perhatikan beberapa hari lalu. Pasalnya ketika g berada di pernikahan cici angkat g, ada suatu pemandangan yang menurut g cukup aneh atau tidak lazim. Pada saat pemberkatan ada beberapa rombongan anak muda yang datang untuk menghadiri dan diantara semuanya ada satu cowo yang menggunakan celana pendek dan kaos sementara yang lain menggunakan celana panjang. Bukannya ingin menghakimi atau menyalahkan, hanya saja image yg g lihat ini tidak sesuai dengan apa yang ada dalam benak g. memang g juga suka dan sering memakai celana pendek kemana-mana. Jalan-jalan, pergi keluar, pacaran dan sebagainya. Tapi g masih mempercayai bahwa ada saatnya lu ga bisa memakai itu ke acara-acara tertentu, misal ke kantor, ke acara-acara formal dan ke pernikahan / undangan. Intinya sih prinsip g adalah g ga boleh membuat orang lain malu akan diri g. Ketika g mempermalukan diri g itu baik baik saja, tapi ketika kita telah membuat orang lain malu dengan apa yg kita perbuat maka itu telah menjadi masalah besar antara g dan orang tersebut. Nah, menurut g, pihak yang menikah atau keluarganya pasti malu ketika ada relasi atau teman yang datang dengan celana pendek saja ke pernikahan mereka. Yang muncul dalam benak g adalah, apakah ia (si celana pendek) menghargai sang pengantin atau keluarganya dengan memakai celana pendek? not really huh?!