The Living & The Dead

(attention, this is not a review)
Beberapa hari yang lalu g nonton film karya peter jackson di bioskop, the lovely bones. Memang sih, sebenarnya uda cukup lama g menunggu film ini keluar. Dan akhirnya beberapa hari yg lalu keluar. Sebenernya g gak begitu suka film drama, tp yg satu ini cukup membuat g tertarik. Pertama karena ceritanya yg memang menarik dan kedua karena sutradaranya adalah peter jackson. Jackson dikenal dengan film arahannya yg membuat namanya melambung, yaitu lord of the rings, kemudian ia menghasilkan kingkong remake. Nah diantara film2 yang pernah ia buat, the lovely bones membuahkan sebuah pertanyaan. Seperti apakah drama yg jackson buat?
Setelah menonton film ini, banyak hal yg terbersit di pikiran g. Pertanyaan2 tentang kehidupan dan kematian. Kehidupan setelah kematian dan apa yg terjadi. Apa yg kita rasakan dan kemana kita akan pergi. Surga, ya memang, menurut agama dan kepercayaan kita, setelah kita mati, kita akan pergi ke surga atau neraka. Tapi pertanyaannya adalah, seperti apakah surga? Apa yg kita lakukan di sana, dan bagaimana rasanya?
Salah satu relasi g, setelah melihat film ini, mengatakan bahwa ia sangat iri dengan orang mati. Bagaimana kebebasan didapat oleh orang mati, melepaskan segala sesuatu dr dunia ini, melepaskan beban hidup. Ia ingin menjadi seperti orang mati di film tsb. Mendengar hal tersebut, g melepas sedikit senyuman dan merasa penasaran. Kenapa ia mau menjadi orang mati? Karena di film tsb ia merasa bahwa yg mati melepaskan segala hal duniawi dan pergi dengan bebas, menuju surga (ya itu jika kita melupakan penghakiman terakhir). Knp ia berpikir seperti itu? Apa iya mati lebih baik dr hidup? Sebuah pertanyaan aneh memang. Biasanya jawaban logis adalah tidak mungkin. Hidup pasti lebih baik drpd mati. Karena banyak sekali orang yg berusaha mati-matian untuk menghindari kematian.
Berdasarkan pemikiran g, orang hidup memiliki semua persoalan duniawi, yang memberikan banyak beban dan semua itu menjadikan hidup ini semakin berat dan sulit untuk dijalani. Dari sisi pribadi, sosial, karir, asmara, hingga posisi memberikan berbagai macam problema dlm hidup. Semua hal tsb membuat orang yg hidup menjadi lelah, dan melihat sebuah perspektif orang mati dlm film ini, wajar saja jika kita ingin menjadi spt orang mati.
Tp kita harus melihat sisi lainnya. Intinya tidak semua yg kau lihat itu benar, dan permasalahannya rumput tetangga selalu lebih hijau. Kau ngiri terhadap orang mati karena kau blm pernah mati, orang mati pun mungkin ngiri thd orang hidup karena mereka tidak bisa melepaskan semua miliknya pada saat mereka hidup.
Ada satu hal yg tarik dlm film ini. Sebuah perubahan persepsi atau pandangan yg terjadi pada tokoh utama, pada saat ketika ia hidup dan saat ia telah meninggal.
Apa sih yg berbeda? Menurut hipotesa yang g simpulkan, ketika kita masih hidup, kita selalu mengedepankan ‘kita’. Self-centered atay egosentris memberikan pengaruh yg sangat besar thd hidup kita. Semuanya tentang kita dan bertitik pusat dengan kita. Apa yg kita dapat, apa yg kita hrs lakukan, kenapa harus kita, kenapa selalu kita, dan bagaimana dengan kita. Semua itu memberikan tanda bahwa kita merupakan makhluk yg egois, saat kitamasih hidup. Pada saat kita meninggal (jika dl teori ini dibenarkan adanya kehidupan setelah kematian / kita masih merasakan semua seperti layaknya kita masih hidup), kita pergi ke tempat lain, atau dunia lain, dunia pararel yg sama dengan dunia saat kita hidup tp ditempati oleh roh-roh yg telah meninggal. Roh2 tsb dpt melihat orang hidup, tp tak bisa berhubungan. Setelah kita mati, kita mulai melihat kehidupan di sekitar kita, keluarga, teman, relasi dan semu yg memiliki hubungan dengan kita. Kita semakin bisa memahami mereka karena sisi egois kita telah hilang. Self-centered atau egosentris yg kita miliki di saat kita masih hidup, tampaknya kita tinggalkan saat kita mati. Skrg kita melihat mereka dari dunia lain. Di saat itulah kita mulai berubah. Semua tidak berpusat lagi pd diri kita, tp pusat tsb berpindah kepada masinh2 individu yg memiliki hubungan dengan kita. Kita mulai memikirkan orang lain, karena kita telah lepas dr semua beban, dari kekhawatiran akan diri kita sendiri. Kita telah bebas dan dijamin pd kehidupan setelah kematian tsb.
Kita mulai menginginkan yg terbaik bagi mereka, dan bukan bagi kita lagi.
Persepsi antar yg mati dan hidup memang berbeda. Kematian telah merenggut semuanya dr manusia, sehingga ketika meninggal, semua yg perlu dipertahankan telah sirna dan tak ada lagi yg harus kita khawatirkan.
Perbedaan persepsi inilah yg membuat g bertanya-tanya motif dan tujuan dr tokoh utama film ini ketika di saat-saat terakhir ia di tmp penantian.

Advertisements

Technology Dependancy

Well, one of my facebook friends, amoric (strange name is it? Well it’s a band), once post a status in their facebook account about ‘technology dependant’. Wow, that’s a phrase contained 2 words, which made me think for like a thousand miles, thousand words, and thousand things.
What is ‘technology dependant’? These two words connect 2 things. About human creation from their unrelentless minds, and their behaviour. Actually, what is technology? It’s a field that advance from time to time, to empowering our culture, civilization, our life form. Evolving from nothing into everything that a man can imagine. Technology has show us that our minds are extraordinary, the gift of God, that gave birth to almost everything in our life. The root of our visionary and great concepts of this world. To expand more than our imagination, to breach new futures and dreams.yet, from all the goods in it, technology has it’s prices. And from time to time, humans always bound to it, wether they knew how much it cost. They reap the crops and suffer the vermins of their own selfishness and greed. Once was noble and naive, now are blinded and mislead by power, wealth, shame, greed, ego, arrogant, mistrust, lust, and curiousity.
Yet they are saving, saving a disaster for their children and the generation after. Technology always like a double edged sword. You might see it has an obvious advantage or simplicity for our needs, and yet you close the eyes off from what it excretes from the back door. Technology consumes us, the life and the world. We, who first come in nature, went through life to industry.
One said once, that we must keep our distance from technology. That we must keep the balance of nature and technology. So how that someone can be said technology dependant? What is the measure of it? How will we know it’s enough? How we keep the balance maintained?
Well we all know that almost everything in our life is a part of technology.
Our household wares, our transports, our tools, clothes, gadgets, toys and even foods are the fruits of technology.
How can you tell technology dependant? For example, cellphones, everyone has it. They use it everyday. They always go anywhere with it. They often said that they can’t live without it. Are they technology dependant? I have an iphone. I always carry it anywhere i go, to work, to play, even to the restroom. I check it when i woke up, before i go to sleep, even when i woke up in the middle of the night. I always use it 24/7, in day to day regular basis.
Am i technology dependant?
How about them (scientists, engineers, technicians, and others). Their life are technology. Their purpose is based on tecnology. If technology does not exist, they also doesn’t. Everything they do is for technology, they spend years of dedication to study, to research, and to create new technology. Are they technology dependant?
And, as i writing this post, it occurs to me, social networking is also a technology, that includes blogs and facebook. What makes one, if he/she blogging every seconds and always update facebook?